Perbuatan manusia perlu diketahui hukum syaranya, karena tolok ukur perbuatan menurut seorang muslim adalah perintah dan larangan Allah. Allah Swt mewajibkan setiap muslim agar memperhatikan setiap perbuatan yang akan dikerjakannya, dan mengetahui hukum syara atas perbuatan tersebut sebelum dikerjakan, karena Allah akan meminta pertanggungjawaban atas perbuatannya di akhirat kelak. Allah Swt berfirman:

فَوَرَبِّكَ لَنَسْأَلَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ  عَمَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua, tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu. (TQS. al-Hijr [15]: 92-93)

 

وَمَا تَكُونُ فِي شَأْنٍ وَمَا تَتْلُو مِنْهُ مِنْ قُرْءَانٍ وَلاَ تَعْمَلُونَ مِنْ عَمَلٍ إِلاَّ كُنَّا عَلَيْكُمْ شُهُودًا إِذْ تُفِيضُونَ فِي

 

Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari al-Quran, dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu diwaktu kamu melakukannya. (TQS. Yunus [10]: 61)

 

Arti berita (ikhbar) Allah kepada hamba-Nya bahwa Allah menyaksikan amal mereka adalah, Allah akan menghisab dan meminta pertanggungjawaban amal perbuatan mereka.

Rasulullah saw juga menjelaskan kewajiban agar perbuatan manusia sesuai dengan hukum Allah, sesuai dengan hukum Islam.

مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

Barangsiapa yang membuat-buat sesuatu (perkara) baru dalam urusan kami ini, maka (perkara) tersebut tertolak.

 

Para sahabat ra selalu bertanya kepada Rasulullah tentang aktivitas mereka sampai diketahui (lebih dahulu) hukum Allah-nya sebelum dilaksanakan. Ibnu al-Mubarak mengeluarkan hadits:

 

أَتَأْ ذَنُ لِيْ فِي اْلاِخْتِصَاءِ ؟ فَقَالَ الرَّسُوْلُ: لَيْسَ مِنَّا مَنْ خَص أَوِ اخْتَصَى وَاِنَّ اخْتِصَاءَ أُمَّتِيَ الصِّيَامُ.
فِيْ السِّيَاحَةِ؟ قَالَ: سِيَاحَةُ أُمَّتِيَ الْجِهَادُ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ. قَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، أَتَأْذَنُ لِيْ فِيْ التَّرَهُّبِ؟ قَالَ: إِنَّ تَرَهُّبَ أُمَّتِيَ الْجُلُوْسُ
فِيْ الْمَسَاجِدِ ِلاِنْتِظَارِ الصَّلاَةِ
»

 

Bahwa Utsman bin Madh’um datang kepada Nabi seraya berkata: ‘Wahai Rasul apakah engkau mengizinkan kepadaku untuk melakukan pengebirian’. Rasul bersabda: ‘Bukan termasuk golonganku orang yang melakukan pengebirian dan meminta untuk dikebiri. Sesungguhnya pengebirian umatku adalah berpuasa’. Utsman berkata: ‘Wahai Rasul apakah engkau mengizinkan untukku melakukan tamasya’. Rasul bersabda: ‘Tamasya-nya umatku adalah jihad di jalan Allah’. Utsman berkata lagi: ‘Wahai Rasul apakah engkau mengizinkanku untuk menjadi rahib’. Rasul bersabda: ‘Rahibnya umatku adalah duduk di mesjid menunggu shalat’.5

Dari Hudzaifah bin Yaman berkata:

 

«كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُوْنَ رَسُوْلَ اللهِ عَنِ الْخَيْرِ وَكُنْتُ أَسْأَلَهُ عَنِ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُّدْرِكَنِيْ، فَقُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنَّا كُنَّا فِي جَاهِلِيَّةٍ وَشَرٍّ، فَجَاءَنَا اللهُ بِهَذَا الْخَيْرِ، فَهَلْ بَعْدَ هَذَا الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ؟ قَالَ: نَعَمْ. قُلْتُ: وَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الشَرِّ مِنْ خَيْرٍ؟ قَالَ: نَعَمْ، وَفِيْهِ دُخْنٌ. قُلْتُ: وَمَا دُخْنُهُ؟ قَالَ: قَوْمٌ يَهْدُوْنَ بِغَيْرِ هَدْيِ تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَتُنْكِرُ. قُلْتُ: فَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ؟ قَالَ: نَعَمْ، دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوْهُ فِيْهَا. قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، صِفْهُمْ لَنَا. قَالَ: هُمْ مِنْ جَلَدَتِنَا وَيَتَكَلَّمُوْنَ بِأَلْسِنَتِنَا. قُلْتُ: فَمَا تَأْمُرُوْنِيْ إِنْ أَدْرَكَنِيْ ذَلِكَ؟ قَالَ: تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِيْنَ وَإِمَامَهُمْ. قُلْتُ: فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلاَ إِمَامٌ؟ قَالَ: فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ بِأَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِ»

 

 

Orang-orang (biasa) bertanya kepada Rasul tentang kebaikan, sedangkan aku bertanya kepada Rasul tentang keburukan, karena (hal itu) takut akan menimpaku. Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah sesungguhnya kami sebelumnya ada dalam (masa) kebodohan dan kejahatan, kemudian Allah mendatangkan kebaikan ini kepada kami. Apakah setelah kebaikan ini akan ada keburukan’? Rasul bersabda: ‘Benar, tetapi di dalamnya terdapat asap yang akan menutupinya’. Aku bertanya: ‘Apa yang dimaksud dengan asap’? Rasul bersabda: ‘Yaitu akan terdapat suatu kaum yang mendapatkan petunjuk bukan dengan petunjukku, kalian akan mengenal mereka dan mengingkari mereka’. Aku berkata lagi: ‘Apakah setelah kebaikan itu akan ada keburukan? Rasul berkata: ‘Benar, yaitu akan ada orang-orang yang mengajak ke neraka jahanam. Barangsiapa yang menyambut (seruan)nya maka akan dilemparkan ke dalamnya’. Aku berkata: ‘Wahai Rasulullah, sebutkan ciri-ciri mereka’. Rasul bersabda: ‘Mereka itu seperti kita dan berbicara dengan bahasa kita’. Aku berkata: ‘Apa yang engkau perintahkan kepadaku jika aku menjumpainya’. Rasul bersabda: ‘Engkau harus berada bersama-sama dengan jama’atul muslimin dan Imam mereka’. Aku berkata: ‘Bagaimana jika tidak ada jama’ah atau Imam’? Rasul menjawab: ‘Jauhilah golongan-golongan itu semuanya, meskipun engkau harus menggigit akar pohon hingga mati dalam keadaan seperti itu’.6

 

Dari paparan di atas jelas bahwa asal perbuatan hamba adalah terikat dengan hukum syara. Dan seorang muslim harus mengetahui hukum Allah tentang suatu perbuatan sebelum mereka mengerjakannya, baik hukum itu wajib, sunnat, haram, makruh ataupun mubah, sebagaimana yang akan kami jelaskan nanti.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>